Gringgingsari

Tradisi Khaul Syekh Kajoran dan Sejarah Masjid Kuno di Gringgingsari, Batang Penulis: Muslikhin Effendy

Sejarah Desa Gringgingsari-Batang, Khikmah Penyakit Aneh, Warga se-Kampung Sembuh Usai Memeluk Agama Islam Penulis: Muslikhin Effendy

Gringgingsari adalah desa di kecamatan Wonotunggal, Batang , Jawa Tengah, Indonesia (wiki pedia)

wali di gringgingsari

Tradisi Khaul sebagai penghormatan atas jasa

Syekh Abdurrahman Sunan Kajoran, di Desa
Gringgingsari. (Wapmild)

WONOTUNGGAL , BATANG – Ini bukan kisah fiktif atau karangan
manusia seperti dalam sinetron atau film.
Namun ini adalah kisah nyata. Awal mula
berdirinya salah satu Desa bernama
Gringgingsari.

Desa Gringgingsari merupakan daerah yang
terletak di daerah pegunungan. Dan berada di
wilayah Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten
Batang, Jawa Tengah.

Pada awalnya desa ini masuk wilayah Kabupaten
Pekalongan.

Desa Gringgingsari dapat mudah
dikenal dengan adanya makam salah satu wali
atau auliya, yaitu makamnya Mbah Syarif
Abdurrahman
yang terkenal dengan nama mbah
Pangeran Sunan Kajoran.

Makamnya Sunan Kajoran sendiri terletak di
pemakaman umum Desa Gringgingsari yang
lokasinya ada di sebelah barat Masjid Al
Karomah.
Pada hari-hari tertentu seperti hari Rabu Wage
atau malam Jumat Kliwon, banyak para peziarah
yang datang ke makam tersebut untuk berdo’a
dan berzikir memetik karomah dengan harapan
doa dikabulkan Allah agar hajatnya terkabul.
Mbah Pangeran Kajoran menjadi tumpuan dan
sandaran bagi warga desa Gringgingsari karena
jasanya yang telah membawa pelita, untuk
menerangi warga Gringgingsari dari kegelapan,
menuju zaman pencerahan.

Berdasarkan riwayat, cerita-cerita dari para
sesepuh dan data dari berbagai sumber yang
didapat, Desa Gringgingsari awalnya
bernama Karangsirno.

Dan saat itu yang
menjadi sesepuhnya adalah mbah Wongsogati I.

Pada saat itu, Agama yang dipeluknya adalah
agama Budha. Setelah mbah Wongsogati I
meninggal, tampuk kepemimpinan diganti oleh
putranya mbah Bromogati. Dan setelah mbah
Bromogati meninggal kemudian diganti oleh
putranya yang bernama mbah Wongsogati II,
cucu dari mbah Wongsogati I.

Pada waktu dipimpin oleh mbah Wongsogati II,

Desa Karangsirno dilanda musibah, yaitu sejenis
penyakit yang dinamakan penyakit to’un (istilah
jawan pageblug), yakni jenis penyakit aneh di
warga pagin sakit, sorenya meninggal, dan
sebaliknya.

Saat itu, banyak warga desa yang meninggal
akibat serangan penyakit tersebut. Sudah banyak
cara yang dilakukan untuk meredam penyakit
itu, namun tak satupun membuahkan hasil.
Hingga akhirnya suatu hari, selaku pemimpin
yang merasa bertanggung kepada warganya,
mbah Wongsogati II pergi ke luar desa dengan
tujuan untuk mencari seseorang yang bisa
mencarikan solusi agar wabah penyakit yang
sedang melanda desa segera berakhir.

Dalam perjalanannya, dia melewati sebuah
sungai yang bernama “Kali Kupang” Disitulah ia
berjumpa dengan dua orang yang sedang
berdzikir di tepi sungai. Iapun menunggu kedua
orang tersebut. Dan setelah mereka selesai
berdzikir kemudian langsung menghampiri
keduanya dan menyapanya.

Singkat cerita, akhirnya mereka bertiga saling
memperkenalkan diri. Kedua orang yang berzikir
tersebut masing-masing bernama Pangeran
Kajoran dan Pangeran Trunojoyo.

Disitulah Mbah Wongsogati II menyampaikan isi
hatinya, yaitu tentang musibah yang sedang
melanda desanya.
Mendengar keluh kesah dan permintaan Mbah
Wongsogati II, akhirnya Pangeran Kajoran
menyatakan kesanggupannya untuk membantu
menyembuhkan penyakit tersebut tapi dengan
salah satu syarat.

Dimana saat itu syaratnya warga desa bersedia
untuk memeluk agama Islam dengan sukarela
tanpa paksaan. Demi kesembuhan penyakit
tersebut mbah Wongsogati II pun bersedia
untuk mengajak warga desanya memeluk
agama Islam dan ingin desanya terbebas dari
wabah penyakit aneh yang sedang melanda.
Akhirnya mereka bertiga sepkat dan mengikat
janji atau tanggungan. Maka tempat tersebut
dinamakan “Kedung Sinanggung” yang saat ini
berada di wilayah Desa Kedung Malang,
Wonotunggal Jawa Tengah.

Selanjutnya merekapun berangkat pergi menuju
Desa Karangsirno. Sampai di suatu tempat
Pangeran Kajoran bertanya di manakah letak
Desa Karangsirno?.

Mbah Wongsogati II menunjukan suatu tempat
yang terlihat jauh di arah selatan. Mereka
memandang (dalam bahasa jawa, nyawang).
Maka tempat tersebut dinamakan “Ketawang”
yang berarti tempat untuk nyawang/
memandang. Dan saat ini sudah menjadi desa
pedukuhan bernama Ketawang Sari.
Di tempat tersebut juga ada sebuah pohon
Gringging atau yang biasa disebut kayu jaran.
Dari sinilah nantinya Desa Karangsirno diganti
namanya menjadi desa Gringgingsari.
Sekarang tempat tersebut lebih dikenal dengan
nama tikungan/enggokan Petung. Lokasinya
kurang lebih 200 meter ke arah barat dari
pertigaan Kali Kupang.

Setelah sampai di Desa Karangsirno, mbah
Wongsogati II mengumpulkan warganya. Lalu
memperkenalkan Pangeraan Kajoran dan
Pangeran Trunojoyo kepada mereka. Warga
diberi penjelasan bahwa Pangeran Kajoran
sanggup untuk ngusadani (memberikan solusi)
agar desa Karangsirno bisa pulih kembali,
asalkan warganya bersedia untuk memeluk
agama Islam secara sukarela dan nama
Karangsirno diganti dengan Gringgingsari.
Singkat cerita, masyarakat akhirnya sepakat.
Seluruh penduduknya dibaiat oleh mbah
Pangeran Kajoran untuk masuk agama Islam.
Masyarakat diajak bershadat untuk menyembah
Allah, dan meninggalkan sesembahan yang lama
yaitu agama Budha.

Kemudian warga pun diajak berdoa kepada
Allah agar wabah penyakitnya sirna. Atas izin
Allah akhirnya desa Karangsirno yang sudah
berganti nama Gringgingsari terbebas dari
wabah penyakit yang selama ini melanda dan
sudah memakan banyak korban.

Dan masyarakatnya juga sudah hidup dalam
suasana yang baru yaitu kehidupan yang Islami
berkat hidayah dari Allah dengan perantara
Syekh Syarif Abdurrrahman atau lebih dikenal
dengan nama Pangeran Sunan Kajoran.
Awal Mula Terbentuknya Sendang Depok
Setelah masyarakat Desa Gringgingsari memeluk
agama Islam, wabah penyakit pun hilang.
Masyarakat tentram dan aktifitas sehari-hari
bisa berjalan dengan normal.
Mereka juga mulai giat belajar mendalami ajaran
Islam dibawah bimbingan Syekh Syarif
Abdurrahman atau Pangeran Kajoran.

Pada suatu hari Pangeran Kajoran mengajak
beberapa orang pergi ke hutan mencari bambu
untuk dibuat rangken atau bahan atap masjid
Desa Gringgingsari. Ketika sampai di hutan dan
sudah tiba masuk waktu salat beliau mencari air
untuk berwudu, namun tidak ada sumber air
yang dijumpainya.
Akhirnya iapun menancapkan tongkatnya ke
tanah, dengan izin Allah keluarlah air dari bekas
tongkat yang ditancapkannya. Dari situlah bukti
karomah yang dimiliki oleh Pangeran Kajoran
selaku seorang Waliyullah.

Kemudian dibuatlah pancuran aliran air dari
bambu dengan tujuan supaya air tersebut lebih
mudah digunakan untuk berwudu.
Bahkan Pangeran juga sempat berniat untuk
mendirikan masjid di kawasan tersebut namun
tidak jad alias “urung”. Akhirnya tempat tersebut
dinamakan “Garung” yang diambil dari kata
langgar yang wurung atau tidak jadi. Setelah
selasai salat merekapun istirahat sambil
“ndeprok” (duduk-duduk untuk menghilangkan
lelah).

Maka dari istilah inilah tempat tersebut
dinamakan Depok yang asalnya dari kata
ndeprok. Sampai sekarang pancuran Depok
masih menjadi tujuan utama para peziarah
untuk mandi dan mengambil airnya.
Atas izin Allah air tersebut hingga saat ini dapat
menyembuhkan beberapa penyakit. Dan yang
lebih istimewa air tersebut bisa langsung
diminum tanpa harus dimasak lebih dahulu.
Rasany sangat segar, apalagi kalau meminumnya
langsung dari pancuran.

Bahkan air di pancuran Depok mempunyai
kandungan mineral yang cukup tinggi yang
sangat berguna sekali untuk kesehatan tubuh
bagi yang meminumnya. Lokasi pancuran Depok
kurang lebih 2 km arah selatan desa
Gringgingsari dengan ruas jalan agak menanjak
terutama di gunung Klengkong.
Mulai tahun 2009, jalan menuju Depok, sudah
mulai dilebarkan dan bisa di lalui oleh kendaraan
roda dua dan empat. Namun belum diaspal.
Merekapun, melanjutkan perjalanannya masuk
hutan, keluar hutan, namun belum juga
menemukan bambu yang dicari. Kemudian
mereka membuat tempat untuk berteduh
namanya sodong (sejenis gubuk dari
tetumbuhan). Dari sinilah kemudian nama desa
Sodong lahir yang letaknya di sebelah selatan
Gringgingsari.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya
kembali untuk mencari bambu. Akhirnya mereka
pun menemukan rumpun bambu yang dicari.
Kemudian bambu tersebut ditebang dan dibawa
ke tanah lapang untuk dipotong-potong.
Rumpun bambu yang kemudian tumbuh lagi
oleh masyarakat desa Sodong disengker artinya
tidak boleh ditebang oleh siapapun kecuali untuk
kepentingan umum. Tempat tersebut
dinamakan dapuran larangan / rumpun
terlarang.

Mereka bekerja berhari-hari. Bekas tempat
istirahat mbah Pangeran Kajoran bekerja juga
disengker oleh masyarakat desa Sodong, yang
melarang siapapun untuk duduk di atasnya.
Konon katanya barangsiapa yang berani duduk
di tempat tersebut akan kena laknat atau istilah
jawanya bebendu. Tempat tersebut kemudian
dipagari supaya aman.

Tapi tempat tersebut sekarang sudah tidak
berbekas karena perkembangan zaman. Pada
tahun 1973 tempat tersebut terkena impas dari
proyek pembangunan Sekolah Dasar Inpres dan
pelebaran jalan, dan akhirnya pagar tersebut
dibongkar.

Perang dengan Ki Hajar Pendek
Untuk membuat rangken (atap masjid) merke
juga membutuhkan tali / tambang untuk
merangkai bambu-bambu tersebut. Karena
tidak ada tambang, maka mbah Pangeran
Kajoran menyuruh sebagian orang untuk pergi
mencari rotan. Kebetulan disebelah selatan desa
Sodong ada gunung kecil dan di tempat tersebut
banyak tumbuh pohon rotan.

Mereka pergi ke tempat tersebut dan mulai
menebang rotan dan memotongnya. Tanpa
mereka sadari bahwa hutan tersebut ada yang
menguasainya. Dan akhirnya mereka tertangkap
oleh anak buah penguasa hutan tersebut.
Kemudian mereka dibawa ke desa Silurah dan
dihadapkan kepada penguasa desa tersebut
yang bernama Ki Ajar Pendek.

Mereka pun akhirnya ditahan Ki Ajar Pendek.
Karena sudah berhari-hari mereka tidak pulang
akhirnya mbah Pangeran Kajoran merasa
cemas. Kemudian beliau menyuruh seseorang
untuk mencarinya.

Singkat cerita akhirnya Pangeran Kajoran minta
maaf kepada Ki Ajar Pendek atas kesalahan yang
telah dilakukan oleh orang-orang suruhannya.
Tapi Ki Ajar Pendek tidak mau menerima
permintaan maaf dari Pangeran Kajoran dengan
begitu saja. Dia bersedia menerima maaf
asalkan Pangeran Kajoran bersedia untuk adu
kekuatan dan mengalahkannya. Demi kebebasan
orang-orangnya, akhirnya Pangeran Kajoran
bersedia untuk menerima tantangan dari Ki Ajar
Pendek.

Pertarungan jarak jauh tingkat tinggi pun
dimulai. Ki Ajar Pendek ada di desa Silurah
sedangkan Pangeran Kajoran berada di desa
Sodong.

Ki Ajar Pendek tahu bahwa waliyullah itu orang
suci. Maka iapun menggunakan kesaktiannya
dengan membuat hujan cacing supaya
mengotori Pangeran Kajoran. Namun Pangeran
Kajoran dengan karomahnya menciptakan hujan
bebek yang akhirnya memakan cacing-cacing
tersebut. Ki Ajar Pendek menjadi geram karena
merasa kalah, kemudian ia mengeluarkan
ilmunya yang lain yang lebih dahsyat yaitu hujan
api. Namun sekali lagi karomah Pangeran
Kajoran yang berupa hujan air mampu
memadamkan api tersebut. Ki Ajar Pendek pun
semakin marah karena selalu kalah dengan
Pangeran Kajoran. Akhirnya iapun mengeluarkan
kesaktiannya yang lain yaitu berupa hujan batu.

Pangeran Kajoranpun tidak mau kalah, iapun
kemudian menciptakan angin topan yang
dahsyat.

Dengan kekuatan angin topan yang dahsyat
tersebut, batu-batu itupun berterbangan dan
jatuh di suatu tempat yang jauh. Batu tersebut
jatuh di sebuah tempat yang sekarang bernama
desa Kuwasan kecamatan Talun Kabupaten
Pekalongan. Rumah Ki Ajar Pendek dan seisinya
juga ikut terbang terbawa angin hingga tinggal
batur atau bekasnya saja.
Bekas rumah Ki Ajar Pendek oleh orang-orang
silurah dinamakan kebun batur dan sampai
sekarang masih ada. Pakaiannya jatuh di desa
Sengare, sedangkan ilir atau kipas dari bambu
jatuh di desa sumilir. Kedua desa tersebut
masuk kecamatan Talun kabupaten Pekalongan
dan terletak di sebelah barat Gringgingsari.
Sedangkan bokor atau tempat menyimpan beras
jatuh di desa Donowangun Talun Pekalongan.
Jambangan tempat untuk menaruh air yang
terbuat dari batu besar jatuh di suatu tempat
yang sekarang bernama dukuh Jambangan desa
Batursari Talun Pekalongan.

Menurut cerita, jambangan yang ada di dukuh
Jambangan tidak pernah kering airnya.
Walaupun musim kemarau airnya selalu ada
tanpa diketahui darimana sumbernya. Pada
zaman pemerintahan Belanda, karena batu itu
tiga perempatny terbenam ke dalam tanah
akibat jatuh terjadi pertarungan antara Pangeran
Kajoran dan Ki Ajar Pendek.
Maka oleh pemerintah Belanda batu tersebut
diangkat ke atas untuk memudahkan orang-
orang mengambil airnya. Namun setelah batu
jambangan tersebut diangkat justru malah jadi
kering tidak keluar lagi airnya sampai sekarang.

Lalu bagaimanakah nasib Ki Ajar Pendek yang
juga ikut terbang terbawa angin? beliau jatuh di
pendopo kabupaten Batang. Pada waktu itu
kebetulan Kanjeng Adipati Batang sedang duduk
di pendopo kabupaten dan ‘angop’ atau
menguap. Kemudian dengan kesaktiannya Ki
Ajar Pendek masuk ke mulut Kanjeng Adipati
dan bersembunyi di dalam perutnya. Kemudian
ia disuruh keluar dan akhirnya dijadikan tukang
merawat kuda Kanjeng Adipati Batang.

Kemudian Pangeran Kajoran melarang warga
Gringgingsari untuk besanan dengan warga desa
Silurah selama tujuh turunan. Namun larangan
tersebut hari ini sudah berakhir, terbukti sudah
banyak warga Gringgingsari yang besanan
dengan warga Silurah dan alhamdulillah tidak
tejadi hal-hal yang buruk.

Hutan rotan yang pernah menjadi sengketa atas
izin Allah telah berubah menjadi hutan bambu
kecil-kecil. Sedangkan gunung kecil tersebut
dinamakam gunung Raga Kesuma. Siapa saja
yang lewat di kaki gunung tersebut pasti kulitnya
akan mengalami perubahan warna yaitu
menjadi cerah kekuningan hingga saat ini.
Bahkan GoNews.co juga sudah
membuktikannya. Namun jika sudah melewati
kaki gunung tersebut warna kulit akan berubah
seperti semula.

Membangun Masjid
Rintangan sudah berlalu. Rencana membuat
rangken (atap masjid) pun diteruskan. Bambu-
bambu tersebut dibawa ke Gringgingsari untuk
dibuat rangken. Talinya menggunakan penjalin
atau rotan. Kemudian masjid didirikan. Atapnya
menggunakan ijuk.

Setelah masjid selesai dibangun ternyata belum
ada sumber air untuk berwudu. Kemudian
Pangeran Kajoran pergi ke arah selatan desa
Gringgingsari. Sampai di suatu tempat yang
bernama Klatak atau juga Genting beliau
meletakan ujung tongkatnya di tepi sungai dan
kemudian menariknya dari tepi sungai tersebut
sambil berjalan pulang ke Gringgingsari.
Dengan karomah yang dimilikinya tanah yang
dilalui Pangeran Kajoran jadi terbelah oleh ujung
tongkatnya yang sedang ditarik dan membentuk
aliran sungai sampai ke sebelah barat masjid.
Akhirnya masyarakat Gringgingsari mendapat
manfaat yang banyak. Sungai tersebut tidak
hanya digunakan untuk berwudlu, namun juga
untuk keperluan mandi, minum, memasak, dan
juga untuk mengairi sawah.

Oleh masyarakat Gringgingsari, sungai tersebut
dinamakan kali jamban. Untuk menjaga
kesucian air tersebut, dari hulu sungai jamban
yaitu dari tempat pertama kali Pangeran Kajoran
menarik tongkatnya sampai areal masjid,
siapapun dilarang untuk buang air besar,
perempuan yang sedang haid dan nifas juga
dilarang mandi di sungai tersebut.
Siapa yang melanggar larangan tersebut baik
disengaja atau tidak, akan terkena laknat atau
bendu. Sudah banyak buktinya yang terkena
laknat. Juga dilarang untuk kencing di areal
masjid dan kawasan pemakaman.

Masjid peninggalan Pangeran Kajoran sudah
direhab beberapa kali. Rehab terakhir tahun
2004 dan sampai sekarang belum selesai 100%.
Jadi sudah tidak asli lagi. Yang masih asli hanya
mustoko pengaron (kubah) yang ada di samping
mustoko yang baru. Peninggalan Sunan
Kajoran Gr Peninggalan – peninggalan
Pangeran Kajoran dan tempat sejarah yang
masih ada sampai sekarang yaitu: Rumpun
bambu atau dapuran larangan di desa Sodong

Pancuran Depok yang selalu dikunjungi
penziarah untuk mengambil airnya dan mandi.
Dilarang mandi sambil telanjang. Â
Masjid Al Karomah. Pemberian nama Al
Karomah oleh remaja masjid pada tahun 1987.

Pakaian lengkap. Namun karena sudah berusia
ratusan tahun maka pakaiannya sudah rusak,
kecuali kuluk / ketu / kopiah. Jubahnya
tersimpan di desa Kajoran Magelang.

Tasbih dan Tongkat, yang selalu dipegang oleh
khatib sewaktu khotbah jum’at dan hari
raya. Kemudian Sungai yang melintasi desa
Gringgingsari. Makam Pangeran Kajoran dan
Pangeran Trunojoyo, Mustoko (kubah) dari
pengaron atau paso.

Adapun pemerintahan desa Gringgingsari yang
sejak itu sudah berjalan demokrasi pemelihan
kepala desa dengan cara berkelompo (dodokan)
yaitu warga yang sudah mempunyai hak pilih
duduk di belakang calon kepala desa, dan
jumlah terbanyak dialah yang terpilih, lima
kepala desa yang di pilih dengan cara tersebut
yaitu : Buang, Roto, Amad dan Cahyo.

Keempat kepala desa tersebut bertugas sejak
tahun 1941 ke bawah, dari keempat kepala desa
tersebut tidak ada perubahan sama sekali baik di
bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya,
maka pada 1942 desa Gringgingsari merubah
sisitem pemilihan kepala desa dengan cara
menggunakan ‘biting’, dan tempat pemilihan di
rumah warga, pada saat itu ada dua calon yang
maju untuk mencalonkan diri menjadi kepala
desa yaitu Samuri dan Duryat.

Dari hasil pemilihan maka Duryat menjadi
kepala desa dan bertugas sejak tahun 1942
sampai dengan 1975, hasil yang di capai pada
masa kepemimpinan bapak Duryat yang
menonjol adalah berdirinya sekolah SD KB
(sekolah dasar kewajiban belajar) pada tahun
1967 sampai dengan 1969 yang bertempat di
dukuh Ujungsari, adapun pengajarnya adalah
dari pensiunan guru waktu itu, yakni Suryadi
dari desa Kedungmalang, dan mendapat guru
negeri dari kabupaten yaitu bapak Zaenal.
Pada tahun 1970, karena Gringgingsari
merupakan desa agamis maka sesepuh desa
merintis Madrasah Ibtidaiyah baru, yang
bertempat dirumah H Zaeni dukuh
Gringgingsari. Karena begitu besar pengaruh
agama islam di desa Gringgingsari maka murid
SD KB pindah ke MI Gringgingsari, dan akhirya
SDKB bubar.

Setahun kemudian yaitu pada tahun 1971,
dengan swadaya warga dapat mendirikan
gedung MI walaupun dengan matrial bambu
beratapkan rumbia. Pada saat itu jalan utama
penghubung warga masih merupakan jalan
setapak hal ini yang membuat ekonomi warga
belum berubah sama sekali.

Dan pada tahun 1975 desa Gringgingsari
mengadakan pemilihan kepala desa dengan cara
menggunakan gambar yang di pilih di ruangan
khusus yang di sebut tobong, pada saat itu calon
kepala desa ada dua orang yaitu Abu Khoiri dan
Akrom.

Saat itu Abu Khoiri menggunakan gambar
payung dan Akrom menggunakan gambar
lampu. Akhirnya yang terpilih menjadi kepala
desa yaitu Akrom, yang menjabat kepala desa
sampai tahun 1989, adapun keberhasilanya
adalah mendirikan SD impres di dukuh
Ketawang, dan membangun balai desa sebagai
pusat pemerintahaan walaupun keadaannya
sangat sederhana, selain itu akses jalan yang
tadinya jalan setapak diubah menjadi jalan
tanah, serta pembangunan jembatan untuk
penghubung antar dukuh, dan ekonomi sudah
mulai ada perubahan.

Pada tahun 1989 ada pemilihan kepala desa
baru, yang terpilih menjadi kepala desa adalah
Kamali, periode Kamali yang seharusnya delapan
tahun cuman bekerja tiga tahun, karena
tersandung banyak masalah.
Karena desa Gringgingsari kekosongan
kepemimpinan yang devinitiv, maka desa
Gringgingsari di beri PJS kepala desa yaitu
Haryoto, salah satu pegawai kecamatan
Wonotunggal, dari tahun 1992 sampai 1995.
Pada tahun 1995 Desa Gringgingsari
mengadakan pemilihan kepala desa baru, pada
saaat itu Sobirin terpilih dan menjalankan tugas
hanya dua tahun karena lagi-lagi bermasalah.

Pada tahun 1997 desa Gringgingsari
mengadakan pemilihan kepala desa baru, pada
saat itu yang mengajukan diri mencalonkan
kepala desa ada satu orang yaitu Rohim. Pada
pemilihan tersebut tidak membuahkan hasil
bahkan pemilihan tersebut sampai diulang tiga
kali namun tetap gagal.

Karena desa Gringgingsari kekosongan
kepemimpinan yang devinitiv, maka dipimpin
PJS kepala desa yaitu Muhayat, masa
kepimpinannya dari tahun 1997 sampai 2002,
jalan desa yang dahulunya tanah di buat jalan
batu, dan pengaspalan jalan dukuh ketawang +
500 m, dan Jaringan Lisatrik masuk desa
Gringgingsari.

Pada tahun 2002 desa Gringgingsari
mengadakan pemilihan kepala desa baru, dan
pada saat itu yang terpilih H. Sunhaji, ia
bertugas dari tahun 2002 sampai 2007, adapun
hasilnya adalah pengasapla jalan, Drainase,
pembangunan MI Syafiiyah dukuh Ujungsari,
MADIN Ketawang, MADIN Gringgingsari dan
saran olah raga berupa dua lapangan sepakbola
dan dua lapangan Bola Volli, serta sedikit
peningkatan ekonomi warga.
Karena Desa Gringgingsari kembali kekosongan
kepemimpinan yang disebabkanberakhirnya
masa tugas H Sunhaji, maka statusnya pun
kembali menjab menjadi PJS.

Pada tahun 2008 Desa Gringgingsari
mengadakan pemilihan kepala desa baru, lagi-
lagi H. Sunhaji terpilih salampai 2014. Dan saat
ini tahun 2017, Desa Gringgingsari dipimpin
Kepala Desa baru yakni Sigit Pranoto.
Demikianlah sepenggal kisah dan sejarah
berdirinya Desa Gringgingsari yang awalnya non
muslim…

kini warganya sangat taat dengan
agama islam dan menjadi kampung tujuan
wisata religi di Jawa Tengah.

dikutip dari: https://www.goriau.com/berita/baca/sejarah-desa-gringgingsaribatang-khikmah-penyakit-aneh-warga-sekampung-sembuh-usai-memeluk-agama-islam.html


Hubungi admin untuk dapat berkomunikasi secara langsung memakai contact Us di halaman ini.