Warna merah yang berasal dari darah leher Mawar Merah – Cerpen Pilu

seperti dalam photo ini iA terus menangis. Air matanya tiada henti
menetes. Sampai-sampai aku tak bisa
membedakan air mata dan air hujan yang
membasahi sekujur tubuhnya. Kedua air
berbeda sumber itu kini telah menyatu.
Merembes. Menggenangi tanah. Mengalir
deras dan berubah keruh akibat bercampur
tanah. Hei, tunggu! Tak hanya keruh, tapi
juga berwama merah. Semerah darah

pikiran rakyat
KETIKA tiba di sini, aku melihat orang-orang
mulai ramai bergerombol. Wajah-wajah mereka
terlihat iba sekaligus penuh selidik. Pandangan
mereka tanpa dikomando tertuju pada sebuah
rumah di ujung sana.
Rumah besar berhalaman
luas yang juga dipenuhi orang serta isak tangis.

Sebuah mobil ambulans yang berada di halaman
rumah bercat biru itu sepertinya telah bersiap
meluncur.
Benar. Tak sampai dua menit, mobil bercat
putih yang ternyata membawa sosok tak
bernyawa itu langsung meluncur dengan
kecepatan tinggi. Sirenenya meraung-raung.
Pekak sekali suara itu.

Ah, bukan. Bukan sirene
itu yang membikin pekak.
Melainkan jerit
seseorang yang tiba-tiba mengudara memecah
langit. Jerit yang terdengar begitu pilu. Menyayat
hati.
Kepalaku berputar, sibuk mencari sumber
suara.

Dan…pandanganku menyorot tajam saat
melihat bayangan seorang gadis yang terus
menjerit sambil mengejar-ngejar ambulas itu.

Luar biasa, gadis itu mampu berlari dengan
kecepatan tingkat tinggi. Ia terus berlari.
Mengejar, menjejeri ambulans putih itu.
Anehnya, tak seorang pun yang memedulikan
jeritannya. Bahkan, orang-orang memang tak
mampu melihat sosok gadis berwajah cantik itu.
Dari raut wajahnya yang kulihat sepintas, aku
mampu membaca gurat penyesalanyang begitu
dalam di sana.

Saat tengah memerhatikan bayangan gadis yang
terus menjerit seraya berlari mengejar ambulans
itu, tiba-tiba terdengar suara tak jauh dari
sebelahku. Hei, bukankah itu suara tangisan?
Tangisan yang tak begitu keras tetapi juga tak
begitu pelan. Konsentrasiku pecah. Kepalaku
berputar ke sana kemari.
Tapi tak ada sesiapa.
Kecuali seutas tali panjang yang terkulai lemas di
sebelah pohon mangga, beberapa meter dari
arah samping kiriku.


GADIS berwajah ayu, berkulit kuning langsat dan
berambut hitam agak ikal sebahu itu tergesa
membuka pintu kamar. Raut wajahnya sembap.
Tampak sekali menyimpan kesal berbaur emosi.

Ia melemparkan tas sekolahnya asal-asalan ke
meja belajarnya hingga mengenai sebagian
tubuhku.
Aku menjerit kesakitan saat tas hitam
itu membentur tubuhku hingga bergeser dan
nyaris jatuh ke lantai.
“Lebih baik aku mati saja daripada menyaksikan
kamu berselingkuh dengan gadis lain!”
Mawar, nama gadis itu, berbicara sendiri sambil
terisak dan mengentak-entakkan kedua kakinya.
Setelah itu ia mengempaskan tubuhnya di atas
ranjang.
Dipeluknya dengan erat bantal guling di
sebelahnya sambil menangis sesenggukan.

“Radit, kenapa sih, kamu tega berselingkuh
dariku di saat aku telanjur sayang dan tak ingin
berpisah darimu?”
Waktu itu aku hanya terdiam. Seraya berusaha
mengingat nama lelaki yang barusan diucapkan
gadis kelas dua SMA itu. Radit. Ah, ya! Aku ingat
sekarang. Lelaki itu adalah pacarnya. Seminggu
lalu, aku pernah melihat Mawar melompat-
lompat kegirangan seperti orang sinting di depan
cermin sambil berkata bahwa ia baru jadian
sama Radit, lelaki yang sebelumnya hanya
sebatas teman sekolah di SMA yang sama tapi
berbeda kelas.

“Horee!! Akhirnya aku jadian sama Radit!”
pekiknya waktu itu sambil mengecup-ngecup
benda tipis warna silver di kedua tangannya.
Benda yang kemudian kuketahui bernama
telefon pintar yang menyimpan banyak sekali
gambar Radit dengan berbagai pose ala
selebritis.

“Lebih baik aku mati!”
Tiba-tiba Mawar bangkit. Dengan gusar dan
wajah berurai air mata, pandangannya menyapu
seisi kamar. Entah, aku tak menahu apa yang
ada di pikirannya dan apa yang sedang dicarinya.
Beberapa menit, setelah tak kunjung
menemukan apa yang sebenarnya ia cari, tiba-
tiba pandangan kami bertemu. Aku sampai
bergidik ngeri saat bersitatap dengan wajahnya.
Bola matanya terlihat menyaga, seperti bola
mata api.

“Lebih baik aku mati daripada melihat Radit
bersama gadis lain,” gumamnya sambil meraih
dan menimang-nimang tubuhku.
Perlahan, aku
mulai menyadari apa yang selanjutnya terjadi
ketika ia memanjangkan tubuhku dan membuat
simpul melingkar.
Dalam sekian menit ia telah
menaikkan kursi di atas meja kayu, lalu berdiri di
sana untuk mengikatkan salah satu ujung
tubuhku di salah satu kayu penyangga atap
kamarnya yang tak terlalu tinggi dan tak
berplafon.

Berkali kuteriakkan padanya bahwa bunuh diri
adalah perbuatan yang sangat dibenci Tuhan.
Tak lupa kukatakan padanya bahwa putus asa,
terlebih hanya gara-gara masalah cinta, adalah
sebuah kekonyolan. Masih banyak lelaki lain
yang lebih baik yang akan datang melamar kelak
jika usianya sudah matang untuk menjalani
biduk rumah tangga. Namun, sekencang apa
pun kupekikkan kata-kata larangan dan motivasi,
nyatanya semua terasa percuma. Ah, aku baru
sadar.
Bagaimana mungkin ia mampu
mendengar ucapan seutas tali?



“JADI, kamu saksi bisu kematian gadis itu?”
tanyaku setelah ia selesai menceritakan
kronologi kejadian yang barusan kulihat.
Tali itu mengangguk dengan raut pilu.
“Kasihan sekali gadis itu ya, usianya masih
remaja, tapi nekat gantung diri.”
“Ya, begitulah, dan sampai detik ini entah
kenapa aku masih merasa bersalah karena tak
kuasa menggagalkan aksi nekatnya,” raut tali itu
sangat sedih.

“Hei, kamu tak usah merasa bersalah begitu,
karena kamu memang sama sekali tak bersalah.
Duniamu berbeda dengan dunia gadis itu. Kamu
memang bisa mendengarnya, tapi ia tak pernah
bisa mendengar suaramu. Semoga saja kejadian
ini dapat menjadi pelajaran penting bagi para
orang-tua di dunia ini.”
Ia hanya diam mendengarkan kata-kataku.
Tetapi tiba-tiba ia menatapku dengan dahi
berkerut. Sepertinya ia baru teringat sesuatu.
“Kamu benar, semoga saja kejadian tragis ini
dapat menjadi pelajaran berharga, khususnya
bagi kedua orangtua Mawar!” ucapnya keras
sekaligus gemas.
Giliran aku mengemyit
keheranan. Sepertinya ia sangat mengenal
sekaligus membenci orangtua Mawar. Tetapi,
kenapa?
“Gara-gara terlalu sibuk dengan pekerjaan,
mereka mengabaikan anak gadisnya yang sangat
butuh bimbingan dan arahan hidup. Harusnya
mereka mengajarkan pendidikan agama pada
Mawar, bukan malah memberi kebebasan di
luar rumah tanpa kontrol. Dulu, ketika ibunya
Mawar belum menjadi wanita karier, ia memiliki
banyak waktu untuk Mawar di rumah. Tetapi
sejak menjadi sekretaris di kantor pemerintahan,
nyaris tak pernah lagi ada waktu untuk
memperhatikan pergaulan anak gadisnya di luar
sana.”

Aku menyimak serius cerita yang mengalir tanpa
jeda dari bibirnya. Ketika kami berdua masih
ingin mengobrol panjang lebar, tiba-tiba
terdengar suara gemuruh meruangi langit yang
kini telah rata berkalang mendung.
“Sepertinya, tak lama lagi hujan turun, maaf aku
pamit dulu, aku harus kembali ke sarang,” aku
mohon pamit padanya.
“Terima kasih, Semut, kamu telah menjadi
teman berbagi kesedihan,” ucapnya lirih sambil
tersenyum tipis meski raut sedih dan duka masih
melekati wajahnya.


DAN di sinilah aku sekarang. Di salah satu
batang pohon mangga yang sedang berbuah
lebat. Aku berteduh di balik sebuah daun hijau
yang cukup lebar dan mampu menahan tubuhku
dari tempias air hujan. Sebelum tiba di liang
batang pohon mangga yang selama ini menjadi
sarangku, hujan deras keburu turun.
Aku pun
berhenti, lantas berteduh di sebalik daun
mangga yang cukup nyaman dijadikan sebagai
tempat berlindung.
Hujan masih menderas.
Sementara di bawah
sana, beberapa meter di sebelah pohon mangga
ini, seutas tali yang beberapa jam lalu dibuang
oleh salah seorang pernbantu rumah
orangtuanya Mawar terlihat bergigil kedinginan.

Dari ketinggian ini, aku dapat melihat tali itu
kembali menangis hingga beberapa lama. Air
matanya terus menetes. Mengalir. Sampai-
sampai, aku sulit membedakan yang mana air
mata dan yang mana air hujan yang membasahi
sekujur tubuhnya. Kedua air berbeda sumber itu
pun menyatu. Menggenangi tanah. Mengalir
deras dan berubah keruh akibat bercampur
tanah. Hei, tunggu! Tak hanya keruh, tapi juga
berwama merah.
Warna merah yang berasal
dari darah leher Mawar yang menodai simpul
tali itu.

Facebook Comments For Wapmild

Please Login to Comment.